Archive for the ‘february’ Category

h1

format flash disk in REDHAT

February 15, 2012

Do you use Linux as your OS? But your flash disk has no disk space? Don’t worry, this is the step of formatting flash disk in Linux, especially REDHAT :

  • unmount your flash disk
  • open new terminal
  • make sure you’re on root
  • run fdisk -l to make sure, which device your flashdisk is (device might be something like /dev/hda or /dev/sda

output will be something like this :
Disk /dev/hdb: 64 heads, 63 sectors, 621 cylinders
Units = cylinders of 4032 * 512 bytes
Device Boot Start End Blocks Id System
/dev/hda1 * 1 184 370912+ 83 Linux
/dev/hda2 185 368 370944 83 Linux
/dev/sda1 369 552 370944 83 Linux
/dev/sda2 553 621 139104 82 Linux swap

  • format your flash disk with this command : mkfs.vfat -F32 -n your-flash-disk-name device

mkfs.vfat -F32 -n MYNAME /dev/sda1

Now you can reuse your flash disk 😉

Advertisements
h1

create symbolic link in REDHAT

February 15, 2012

The simple way to create symbolic link in REDHAT is just enter the following command at the shell prompt :

ln -s [target-file/directory] [symbolic-name_file/directory]

For example, create symbolic link for /mydir as /home/myname, enter the following command :

ln -s /home/myname /mydir

Output :

lrwxrwxrwx 1 myname myname 1 2012-02-15 09:00 mydir -> /home/myname

h1

sedikit tahu itu lebih baik

February 18, 2010

“because curiosity makes jealousy”

dan biarkan aku jadi pemujamu
jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
aku takkan sampai hati bila menyentuhmu

h1

nggak susah???

February 18, 2010

Meskipun belum genap dua tahun terdaftar sebagai seorang WP (Wajib Pajak), pelaporan untuk SPT sudah masuk yang kedua kalinya. Dan artinya, sudah yang ketiga kalinya aku berurusan dengan KPP beserta karyawan-karyawannya. Hanya satu yang bisa disimpulkan, “jadi orang bijak itu nggak susah tapi dipersusah!“.

Pertama (saat mendaftar sebagai wajib pajak)

Aku adalah pendatang baru di Jakarta, masih dengan KTP daerah dan masih belum berniat untuk merubahnya menjadi KTP Jakarta. Datang ke KPP dengan persaratan yang telah ditentukan. Karena sebelumnya hanya punya KTP daerah maka diwajibkan membawa surat keterangan kerja dari perusahaan tempat aku bekerja.
Mendekati batas akhir pendaftaran tentunya banyak sekali para calon wajib pajak yang mengantri di KPP. Sabar menunggu selama dua jam, akhirnya giliranku datang juga. Kebetulan para petugasnya masih muda-muda, cowok semua pula, tentunya menunggu selama dua jam pun tak akan terasa. Sedikit kecewa karena petugas yang mendapat giliranku bukan petugas yang aku lirik-lirik dair tadi. Tapi ya sudahlah…yang penting urusan ini segera selesai.
Di depan petugas kuserahkan semua berkas yang harus dipenuhi. Melihat surat keterangan kerja dan KTP daerah yang aku bawa, dia langsung bertanya-tanya, mengajukan protes karena seharusnya aku mengurus di daerah asal. What??? Sistem sudah online, tetap harus mengurus di daerah. Sudah untung saya mau mengurus, ini malah dipersulit. Ditambah lagi nada tinggi petugasnya yang bikin emosiku naek. Mas…mas…saya tau masnya capek ngadepin calon wajib pajak yang banyak tanya, tapiya itulah tugas Anda. Bukannya malah marah-marah ke calon wajib pajaknya.

Dengan lobi sana lobi sini dan penjelasan bahwa nggak mungkin donk saya pulang hanya untuk mengurus hal yang seharusnya bisa dipermudah, akhirnya mereka menerima aplikasi saya dengan sarat surat pernyataan bermaterai. Ya elaaah…sudah bayar pajak, masih aja disuruh bayar materai.

Kedua (saat laporan SPT tahun pertama)

Karena masih pertama, aku pun masih belum tau apa yang harus dilakukan. Sesuai instruksi dari kantor, saya cukup membawa 1721A dan 1770SS yang sudah diisi sebelumnya.
Datang kesana sudah banyak antrian, tapi tidak sebanyak saat aku mendaftar sebagai wajib pajak. Sebelum menghadap ke petugasnya, sudah diberitahukan secara lisan, bahwa semua yang mau melaporkan SPTnya harus memasukkan semua berkas ke dalam amplop. What??? Pake amplop segala, belinya aja jauh…disana pun nggak menyediakan. Kita ikhlas koq…uang yang kita bayar sepersekiannya digunakan untuk beli amplop, nggak perlu lah kita keluar uang lagi hanya untuk membeli amplop. Bukan karena wajib pajak yang pelit, harga amplop kan hanya 1000 rupiah saja, justru itu malah…kenapa KPP nggak menyediakan untuk kita?

Ketiga (saat laporan SPT tahun kedua)

Karena pengalaman menunggu antrian seperti saat laporan tahun pertama, maka aku pun dengan semangat 45, melaporkan SPT di awal-awal masa pelaporan.
Datang sendiri ke KPP, masih sepiiii banget. Langsung lah giliran saya untuk menghadap petugas. Kuserahkan berkas 1721A dan 1770SS kepada petugasnya. Ada respon seperti keheranan pada petugasnya. Mungkin dia berpikir “mbak nya ini cepet amat laporannya“. Petugas berkata, “tunggu ya mbak…kalo mau laporan harus dicek dulu No. NPWP nya“.
Setelah beberapa menit menunggu petugasnya mengecek No. NPWP ku, dia kembali ke meja dan berkata “wah mbak…mbak nya ini terdaftar di daerah, seharusnya melapor di daerah juga”. What??? Lagi-lagi sudah online pun tetap harus ke daerah, trus ngapain pake acara online-online segala mbak???
Lalu aku pun bertanya “bukannya tahun kemaren bisa mbak ngurus dimana saja?“. Petugas menjawab “iya mbak, tapi kebijakan dari atas belum ada“. Ya elaaah…mereka sendiri yang menentukan periode pendaftaran, kenapa juga nggak sekalian bikin kebijakan sama.
Mau lapor aja koq dipersusah. Sudah rela dipotong pajak masih aja ribet ngurusnya. Apa iya aku harus pulang hanya untuk mengurus hal yang sebenarnya mudah? Walaupun bisa lewat pos, apa iya kita disuruh keluar uang lagi padahal uang yang kita berikan juga demi kemakmuran negara ini? Kenapa nggak KPP saja yang mengirimnya betul nggak????

JADI ORANG BIJAK MEMANG NGGAK SUSAH TAPI DIPERSUSAH!!!

h1

remembering…

February 8, 2010

calling from….

+628564xxxxxxx

dan beliau mengingatkan kembali…

*maaf karena telah melupakan-MU*

h1

anak gaul jakarta

February 8, 2010

Satu setengah tahun hidup di kota metropolitan, hasilnya :

“jalan-jalan yuk…”

“kemana?”

“ke Gxxxx Indonesia, kita poto-poto”

“mau makan dimana?”

“gimana kalo di Sxxxx Groove “

“yang dimana?”

“di mall Setiaxxxx aja”

“wiken mau belanja dimana?”

“di Axxxxxxdor aja sekalian jalan-jalan”

dan siang ini…

“mau jalan kemana kita hari ini?”

“mall Taman Axxxxxx aja yuk…”

!@#$%^&*?

Mau cari hiburan di Jakarta, yang disuguhin hanya gedung-gedung tinggi dengan etalase-etalase yang bisa bikin kantong kempes aja, kalo enggak…paling-paling cuma bisa ngeliatin sambel nelen ludah!

*aaaaarrrrgggghhh…aku kangen sawah di belakang rumah…aku kangen kebun buah yang bisa kupetik kapan aja…aku kangen kolam ikan di samping rumah…aku kangen rumaaaaaaaaaah…..*

h1

common function not updated [CA Gen]

February 4, 2010

Sometimes you can’t get the latest changes from your Action Block, or your Diagram Trace can’t trace the table you used, but you’re really sure that you have taken the right (.jar) file in your oc4j applib. What should you do?

First, make sure that the right (.jar) file are got from folder “deploy.j2ee” in your model (.ief). It will appear after you assembly your codes.

Yeah…in folder deploy.j2ee you just find the (.ear) file. Where is the (.jar) file?

Actually, the right (.jar) file is in the (.ear) file that you see in folder “deploy.j2ee”. Sometimes I meet other developers can’t get the latest changes because they usually use the (.jar) file that they got from folder “classes”. I don’t know how it could be, but since I use the (.jar) file from folder “deploy.j2e”, I always get the latest changes from my Action Block. Just extract the (.ear) file, than you can get the (.jar) file that needed in your applib.

– good luck – 😉