Archive for the ‘2010’ Category

h1

e-mail special

April 25, 2010

From : Tata (pdparamitha@gmail.com)

To : God (yme@heaven.org)

Subject : Thanks God

Hai God,

Apa kabar? Lama tak menyapamu…Maaf, bukannya aku lupa, tapi hanya ingin menikmati segala kenikmatan yang telah Kau beri tanpa harus berbagi dengan orang lain.

Makasi ya, buat setahun ini. Untuk kesehatan, kesempatan, kepercayaan dan segala hal yang membuatku menjadi lebih baik. Pokoknya makasih banget deh… Aku yakin Kau memberiku satu tahun lagi agar aku bisa memperbaiki lagi segala sesuatu yang telah kuperbuat dan kujalani.

Makasih juga untuk tanggal 5 Mei, untuk 9 Agustus, untuk 4 November, untuk 9 November, untuk 1 Januari dan yang paling utama, terimakasih untuk tanggal 25 April. Karena aku selalu cinta 25 April. Gimana nggak cinta, tanggal 25 pun rekening tabungan bertambah hehehe.

Salam hangat,

Tata

Hari ini genap 24 tahun usiaku. Nggak nyangka sudah hampir seperempat abad aku hidup di dunia. Masih banyak yang harus dipelajari. Belajar untuk sabar, belajar untuk ikhlas, dan belajar untuk selalu mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan padaku.

Terimakasih pada semua orang yang telah memberi ucapan baik secara langsung maupun melalui SMS, Skype, YM, internal messaging, facebook, twitter. Kalian adalah orang-orang terbaik yang dikirim oleh-Nya untuk mengisi hari-hariku.

Di hari yang spesial ini, semoga aku

Punya kedewasaan seperti usia 40,

Punya keberanian seperti usia 20,

Punya imajinasi seperti usia 10,

Wish me luck..

and happy birthday to me… 😉

Advertisements
h1

untuk seorang nenek

March 7, 2010

tubuhmu semakin mengurus

matamu menyimpan seribu kesedihan

tanganmu masih memancarkan kasih sayang

suaramu menunjukkan kelembutan

itu semua kau tutupi dengan senyuman tulus kebahagiaan

untuk pertama kalinya bertemu

banyak yang kau ajarkan tanpa bermaksud menggurui

trimakasih nek…suatu saat aku akan mengunjungimu lagi

pasti.

h1

musibah

March 7, 2010

Musibah tidak bisa dihindari, apalagi memilih obyeknya. Siapapun bisa tertimpa, entah itu besar atau kecil, tua atau muda, pria maupun wanita, miskin atau kaya. Dalam rentan waktu yang singkat, orang-orang di sekitarkupun terpilih untuk tertimpa musibah. Ya…tertimpa bukan ditimpa, karena sekali lagi, musibah tidak memilih siapa obyeknya.

Pertama, seorang senior di tempatku bekerja, beliau masih muda, bersemangat dan cerdas. Siapa yang akan menyangka bahwa beliau, yang sehari sebelum kejadian naas itu menimpanya masih bisa tertawa dan berkumpul bersama teman-teman yang lain, harus menerima musibah yang tidak semua orang bisa menghadapi setegar beliau sekeluarga.
Beliau harus terbaring koma hingga sekarang, karena kecelakaan yang menimpanya ketika beliau berangkat mencari nafkah. Berawal dengan niatan tulus untuk mencari nafkah harus berakhir di ruang ICU selama 2 minggu lebih.
belum lagi musibah yang menimpa dirinya berakhir, musibah lain menimpanya kembali. Kakak laki-lakinya yang juga masih muda, tidak sanggup menerima kenyataan atas keadaan yang menimpa adik kesayangannya, akhirnya harus menghembuskan nafas terakhir sebelum beliau sempat berpamitan dengan adeknya. Dalam waktu kurang dari dua hari, sang orang tua harus menerima cobaan seberat itu. Satu kata yang bisa kuucapkan…sungguh luar biasa, bahkan aku pun takkan sanggup menghadapinya… Meskipun tidak ada hubungan darah langsung, saat melihat beliau terbaring ada rasa kehilangan yang begitu mendalam, apalagi orang-orang yang lebih sering berada di kelilingnya… “Saudaraku…dengar bisikan mereka yang sangat merindukan kehadiranmu seperti hari-hari biasa kalian bersama… Semangatlah untuk bangkit, bahwa banyak yang sangat menyayangimu, bahwa banyak yang masih ingin mereka bagi dalam hidup mereka bersamamu… Cepatlah kembali…karena kami selalu menunggumu”

Kedua, seorang senior juga sahabat di tempatku bekerja, beliau masih muda, bersemangat, dan masih ingin bercita-cita untuk membangun sebuah keluarga bersama calonnya. Siapa yang akan menyangka bahwa beliau, yang selalu rajin berolahraga, harus terbaring di rumah sakit karena penyakit yang entah darimana asalnya. Jangankan asalnya, penyakitnyapun belum ketahuan apa namanya. dugaan awal adanya virus yang menyerang tubuhnya. Kita pun mengira bahwa dia menderita thypus atau demam berdarah, tapi ternyata salah…semua indikator kedua penyakit itu menyatakan bahwa not reacted. Pusing yang menyerang kepalanya membuatnya harus berbaring di ruang sempit itu selama hampir seminggu. Tidak jauh bukan rentan waktu antara temanku yang pertama dengan yang kedua? Bahkan mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Yang membuatku merasa tergerak untuk menjaganya selain karena hubungannya kita cukup dekat sebagai teman, juga karena keluarga yang tidak bisa mendampinginya ketika beliau memang benar-benar membutuhkan. Jarak yang terlalu jauh membuatnya harus menanggung beban ini sendiri.
sakit di negri orang tanpa sanak saudara memang hal yang menyedihkan. “Saudaraku…jangan kau merasa bahwa kau disini sendiri, masih ada aku, dia, dan mereka…Kita akan selalu berada di sampingmu, jika pundakmu tak sanggup menanggung beban itu, masih ada pundakku, pundaknya dan pundak mereka”.

Ketiga, teman satu atap, yang sangat menyayangi binatang, terutama kucing dan anjing. Siapa yang menyangka bahwa beliau, yang sangat meyayangi binatang terutama kucing dan anjing, justru terluka oleh yang mereka sayangi. Tiba-tiba saja kucing yang sedang dia bawa untuk berobat, berontak setelah mendengar gonggongan anjing. Gigitan dan cakaran sang anjing membuat tangan, kaki dan sebagian badannya harus berdarah dan luka-luka. Tiga suntikan harus mendarat di badannya untuk menghindari infeksi berkelanjutan. Dua tangannya mendapat banyak luka yang mengakibatkan beliau susah untuk bebas bergerak dengan kedua tangannya.
“Saudaraku…jangan merasa bahwa tanpa kedua tangan kau tak bisa berbuat apa-apa, tanganku adalah tanganmu, tangannya pun adalah tanganmu, kita disini saudara, sudah selayaknya untuk saling membantu tanpa mengharap pamrih apapun”

Di balik musibah pasti ada berkah…percayalah bahwa tanpa ujian kalian tidak akan pernah naik ke level yang lebih atas.
Dan yakinlah bahwa Tuhan takkan pernah memberikan cobaan yang tak mampu ditanggung oleh hamba-Nya.
Semoga raga ini masih sanggup untuk selalu menemani mereka…

h1

sedang tak ingin…

March 3, 2010

menulis…

bercerita…

apalagi berkhayal…

bukan karena pekerjaan…

hanya disibukkan dengan kompromisasi antara hati dan pikiran…

jadi biarkan sampai mereka mau berdamai…

h1

sedikit tahu itu lebih baik

February 18, 2010

“because curiosity makes jealousy”

dan biarkan aku jadi pemujamu
jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
aku takkan sampai hati bila menyentuhmu

h1

nggak susah???

February 18, 2010

Meskipun belum genap dua tahun terdaftar sebagai seorang WP (Wajib Pajak), pelaporan untuk SPT sudah masuk yang kedua kalinya. Dan artinya, sudah yang ketiga kalinya aku berurusan dengan KPP beserta karyawan-karyawannya. Hanya satu yang bisa disimpulkan, “jadi orang bijak itu nggak susah tapi dipersusah!“.

Pertama (saat mendaftar sebagai wajib pajak)

Aku adalah pendatang baru di Jakarta, masih dengan KTP daerah dan masih belum berniat untuk merubahnya menjadi KTP Jakarta. Datang ke KPP dengan persaratan yang telah ditentukan. Karena sebelumnya hanya punya KTP daerah maka diwajibkan membawa surat keterangan kerja dari perusahaan tempat aku bekerja.
Mendekati batas akhir pendaftaran tentunya banyak sekali para calon wajib pajak yang mengantri di KPP. Sabar menunggu selama dua jam, akhirnya giliranku datang juga. Kebetulan para petugasnya masih muda-muda, cowok semua pula, tentunya menunggu selama dua jam pun tak akan terasa. Sedikit kecewa karena petugas yang mendapat giliranku bukan petugas yang aku lirik-lirik dair tadi. Tapi ya sudahlah…yang penting urusan ini segera selesai.
Di depan petugas kuserahkan semua berkas yang harus dipenuhi. Melihat surat keterangan kerja dan KTP daerah yang aku bawa, dia langsung bertanya-tanya, mengajukan protes karena seharusnya aku mengurus di daerah asal. What??? Sistem sudah online, tetap harus mengurus di daerah. Sudah untung saya mau mengurus, ini malah dipersulit. Ditambah lagi nada tinggi petugasnya yang bikin emosiku naek. Mas…mas…saya tau masnya capek ngadepin calon wajib pajak yang banyak tanya, tapiya itulah tugas Anda. Bukannya malah marah-marah ke calon wajib pajaknya.

Dengan lobi sana lobi sini dan penjelasan bahwa nggak mungkin donk saya pulang hanya untuk mengurus hal yang seharusnya bisa dipermudah, akhirnya mereka menerima aplikasi saya dengan sarat surat pernyataan bermaterai. Ya elaaah…sudah bayar pajak, masih aja disuruh bayar materai.

Kedua (saat laporan SPT tahun pertama)

Karena masih pertama, aku pun masih belum tau apa yang harus dilakukan. Sesuai instruksi dari kantor, saya cukup membawa 1721A dan 1770SS yang sudah diisi sebelumnya.
Datang kesana sudah banyak antrian, tapi tidak sebanyak saat aku mendaftar sebagai wajib pajak. Sebelum menghadap ke petugasnya, sudah diberitahukan secara lisan, bahwa semua yang mau melaporkan SPTnya harus memasukkan semua berkas ke dalam amplop. What??? Pake amplop segala, belinya aja jauh…disana pun nggak menyediakan. Kita ikhlas koq…uang yang kita bayar sepersekiannya digunakan untuk beli amplop, nggak perlu lah kita keluar uang lagi hanya untuk membeli amplop. Bukan karena wajib pajak yang pelit, harga amplop kan hanya 1000 rupiah saja, justru itu malah…kenapa KPP nggak menyediakan untuk kita?

Ketiga (saat laporan SPT tahun kedua)

Karena pengalaman menunggu antrian seperti saat laporan tahun pertama, maka aku pun dengan semangat 45, melaporkan SPT di awal-awal masa pelaporan.
Datang sendiri ke KPP, masih sepiiii banget. Langsung lah giliran saya untuk menghadap petugas. Kuserahkan berkas 1721A dan 1770SS kepada petugasnya. Ada respon seperti keheranan pada petugasnya. Mungkin dia berpikir “mbak nya ini cepet amat laporannya“. Petugas berkata, “tunggu ya mbak…kalo mau laporan harus dicek dulu No. NPWP nya“.
Setelah beberapa menit menunggu petugasnya mengecek No. NPWP ku, dia kembali ke meja dan berkata “wah mbak…mbak nya ini terdaftar di daerah, seharusnya melapor di daerah juga”. What??? Lagi-lagi sudah online pun tetap harus ke daerah, trus ngapain pake acara online-online segala mbak???
Lalu aku pun bertanya “bukannya tahun kemaren bisa mbak ngurus dimana saja?“. Petugas menjawab “iya mbak, tapi kebijakan dari atas belum ada“. Ya elaaah…mereka sendiri yang menentukan periode pendaftaran, kenapa juga nggak sekalian bikin kebijakan sama.
Mau lapor aja koq dipersusah. Sudah rela dipotong pajak masih aja ribet ngurusnya. Apa iya aku harus pulang hanya untuk mengurus hal yang sebenarnya mudah? Walaupun bisa lewat pos, apa iya kita disuruh keluar uang lagi padahal uang yang kita berikan juga demi kemakmuran negara ini? Kenapa nggak KPP saja yang mengirimnya betul nggak????

JADI ORANG BIJAK MEMANG NGGAK SUSAH TAPI DIPERSUSAH!!!

h1

remembering…

February 8, 2010

calling from….

+628564xxxxxxx

dan beliau mengingatkan kembali…

*maaf karena telah melupakan-MU*