
cicak, buaya dan aku
November 8, 2009Di saat semua media massa menayangkan topik yang sama, cuma aku yang tak mau peduli. Dari televesi, radio, surat kabar, website, situs jejaring sosial, semua membahas hal yang sama. Yang bikin aku heran, acara infotainment pun ikut-ikutan. Apa memang sudah kehabisan gosip artis lagi? Ato memang topik ini yang lebih cocok untuk menemani secangkir kopi atau teh manis?
Krisdayanti dan Anang, lewaaat…
Luna Maya dan Ariel, emang gue pikirin…
apalagi Sheila Marcia, bukan gue yang ngehamilin !!!
Tapi giliran cicak sama buaya, yuuuk mariiiii….
Meskipun mungkin kita sebangsa, tapi aku tetap nggak peduli. Buat apa aku ikutin? Diikutin juga nggak bakal nambahin penghasilanku apalagi bikin perut kenyang. Aku cuma butuh makan, yang perlu aku pikirkan adalah gimana caranya biar orang-orang mau memberiku uang. Cukup dengan pergi ke pasar, cukup dengan narik becak, cukup dengan nabuh genderang, atau lompa-lompatan, aku harus dapat uang. Uang untuk beli makan.
Cicak dan buaya, biarlah mereka adu kekuatan, siapa yang punya taring lebih tajam, siapa yang lebih cekatan, siapa pula yang lebih licik dari seekor kancil, yang penting perutku kenyang!!! Kecuali kalau mereka ikut memikirkan nasibku, aaahhh…nggak mungkin…, memalingkan muka padaku saja, pasti belum pernah. Padahal mungkin zaman mereka masih suka buang air di celana, zaman mereka masih suka ingusan, zaman uang 100 rupiah masih sangat berharga, yang seperti aku jadi hiburan yang selalu ditunggu.
Siapalah aku ini, aku ini siapa bagi mereka, aku dan mereka, mereka dan aku, aku, mereka, sebangsa tapi berbeda.

Ya… aku hanyalah Sarimin yang cuma bisa pergi ke pasar, narik becak, nabuh genderang dan lompat-lompatan. Mungkin selain perut kenyang, aku juga memikirkan bagaimana caranya agar aku nggak sendirian lagi pergi ke pasar. Apa dari kalian ada yang kenal dengan Juminten atau Poniyem? Kalau ketemu kasih tau ya…besok aku mau ajak dia ke pasar…